
Minyak Naik Tipis, Fokus Beralih ke Selat Hormuz
Harga Minyak naik tipis pasca Amerika Serikat mengimbau kapal-kapal untuk menghindari perairan Iran saat melintasi Selat Hormuz—membangkitkan lagi “risk premium” yang sempat mereda dalam beberapa hari terakhir di tengah pembicaraan nuklir.
Kontrak berjangka WTI menguat 1,3% dan ditutup di atas $64 per barel, setelah Departemen Transportasi AS (melalui advisory maritim) menyebut kapal berbendera AS sebaiknya berada sejauh mungkin dari perairan Iran. Imbauan ini merujuk insiden pekan lalu, saat IRGC (Garda Revolusi Iran) dilaporkan mengganggu sebuah tanker berbendera AS yang sedang melintas di jalur tersebut.
Langkah itu memicu kekhawatiran investor soal potensi gangguan jangka pendek di “chokepoint” Hormuz—jalur vital yang menyalurkan sekitar sepertiga aliran Minyak dunia—serta risiko eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah yang kaya Minyak. Iran sendiri beberapa kali mengancam akan menutup Hormuz saat tensi geopolitik meningkat.
Sentimen ini berbalik dari tekanan bearish yang sebelumnya muncul setelah Iran dan AS sepakat melanjutkan perundingan, usai pertemuan yang mereka sebut positif di Oman pada Jumat. Teheran menilai sesi tersebut—yang bertujuan meredakan ketegangan soal program nuklir Iran—sebagai “langkah maju.”
Presiden AS Donald Trump, yang berulang kali mengancam Teheran dengan serangan udara, mengatakan akan ada pertemuan lanjutan pekan ini. Trump juga dijadwalkan bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu pada 11 Februari, di saat Washington menyiapkan Tarif bagi negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran.
Di luar isu Hormuz, Pasar juga memantau arus Minyak ke India. Impor India atas Minyak Rusia diperkirakan turun sekitar setengah dari level yang sudah melemah belakangan ini, setelah Trump menyebut India sepakat menghentikan pembelian Minyak Rusia sebagai bagian dari kesepakatan dagang. Namun, New Delhi belum mengonfirmasi langsung, dan menegaskan keamanan energi tetap prioritas utama.
Menurut Warren Patterson (ING), bila India benar-benar menghentikan pembelian Minyak Rusia, Pasar kemungkinan akan melihat diskon Minyak Rusia melebar untuk mencari pembeli alternatif. Jika gagal menemukan pembeli baru, dampaknya bisa mengarah ke neraca pasokan yang lebih ketat.
Pekan ini juga dinilai krusial karena Pasar akan menanti pembaruan outlook dari lembaga-lembaga besar: peramal resmi AS, OPEC, dan IEA.
Sementara itu, Meksiko menghentikan pengiriman Minyak ke Kuba setelah Trump mengancam sanksi pada negara yang memasoknya. Impor Minyak Kuba disebut turun ke nol pada Januari—pertama kali sejak 2015—yang makin menekan ekonomi Kuba dan memperparah kelangkaan kebutuhan energi.
Harga penutupan:
WTI (Maret) naik 1,3% ke $64,36 per barel (New York)
Brent (April) naik 1,5% ke $69,04 per barel.(yds)
Sumber: Bloomberg.com
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam Platform Trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
Analisis Fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
analisis teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.